Indonesia menargetkan ASEAN lebih efektif, adaptif, dan relevan menjelang peringatan 60 tahun organisasi kawasan tersebut pada 2027. Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menilai organisasi regional perlu membuktikan manfaat nyata, bukan sekadar mempertemukan para pemimpin negara anggota. Dorongan reformasi ASEAN itu disampaikan dalam pernyataan pers perdana Arrmanatha seusai serah terima jabatan di Jakarta, Senin. Agenda tersebut menempatkan perdamaian, kepercayaan antarnegara, dan hasil konkret bagi masyarakat sebagai ukuran penting keberhasilan kerja sama regional.
Arrmanatha, yang akrab disapa Tata, juga mendorong ASEAN memperkuat arsitektur Indo-Pasifik untuk menjaga keamanan dan stabilitas bersama. Ia menekankan bahwa kawasan damai dan dapat diprediksi memberi setiap negara ruang lebih luas untuk tumbuh serta meningkatkan kesejahteraan. Indonesia turut menyiapkan penguatan forum regional dan kemitraan dialog, termasuk kerja sama dengan Turki sebagai mitra ASEAN.
Reformasi ASEAN Harus Menghasilkan Capaian Nyata
Reformasi ASEAN harus menghasilkan capaian terukur, sebab pertemuan diplomatik saja tidak cukup menjawab tantangan kawasan yang terus berubah. Pemerintah ingin organisasi ini memperkuat mekanisme kerja sama agar kesepakatan bersama berujung pada tindakan yang dirasakan masyarakat. Tuntutan efektivitas tersebut makin relevan menjelang 2027, ketika ASEAN memasuki enam dekade perjalanan sebagai organisasi regional Asia Tenggara. Indonesia menaruh perhatian pada hasil konkret, kepercayaan lintas negara, dan pemeliharaan perdamaian sebagai fondasi integrasi kawasan ke depan.
Dari Forum Pertemuan Menuju Tindakan
Arrmanatha menilai ASEAN perlu beranjak dari fungsi mempertemukan pemimpin menuju kerja kolektif yang mampu mengatasi tantangan nyata kawasan. Pendekatan itu menuntut tindak lanjut kuat, koordinasi antaranggota, dan pelaksanaan komitmen yang tidak berhenti pada deklarasi bersama. Dengan begitu, masyarakat dapat menilai kerja sama regional melalui manfaat keamanan, peluang ekonomi, dan kestabilan lingkungan strategis.
Indonesia Perkuat Arsitektur Indo-Pasifik
Indonesia juga akan memperkuat peran ASEAN dalam arsitektur Indo-Pasifik, dengan menempatkan keamanan dan kesejahteraan sebagai agenda saling berkaitan. Strategi tersebut mencerminkan pandangan bahwa stabilitas tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung pada kepercayaan dan komunikasi antarnegara. Indonesia ingin forum kawasan tetap inklusif, sehingga negara dengan kepentingan berbeda dapat berdialog tanpa memperuncing persaingan geopolitik. Penguatan arsitektur regional juga diharapkan menopang ketahanan kawasan, lalu memberi kontribusi terhadap stabilitas global yang lebih luas.
Reformasi ASEAN Membutuhkan Forum Inklusif
Reformasi ASEAN membutuhkan forum terbuka, dan Indonesia akan mendorong ASEAN Regional Forum agar lebih inklusif serta membangun kepercayaan. Jakarta juga mendorong ASEAN Plus Three dan East Asia Summit, sembari memperluas kemitraan dengan negara mitra dialog. Turki termasuk mitra yang disebut Tata, sementara kerja sama regional lainnya diarahkan memperkuat ketahanan dan hubungan lintas kawasan.
Kemitraan Meluas hingga Turki
Langkah ini memperluas ruang diplomasi di luar Asia Tenggara dan membantu menghubungkan isu keamanan dengan kepentingan ekonomi. Melalui dialog yang konsisten, Indonesia ingin menjaga agar persaingan strategis tidak menutup jalur komunikasi antarnegara. Namun, efektivitas forum akan bergantung pada kesediaan anggota menerjemahkan pembicaraan menjadi koordinasi dan tindakan berkelanjutan.
Peluang Kepemimpinan ASEAN pada 2028
Indonesia juga melihat peluang memegang jabatan Sekretaris Jenderal ASEAN pada 2028 sebagai kesempatan memengaruhi arah organisasi. Jabatan tersebut belum pasti berada di tangan Indonesia, tetapi pemerintah menilai peluang itu layak dimanfaatkan secara strategis. Pengaruh dalam kepemimpinan sekretariat dapat membantu mendorong kesinambungan kebijakan, meski kemajuan tetap memerlukan kesepakatan semua anggota.
“Kesempatan ini akan kita manfaatkan untuk ikut membentuk arah dan memperkuat kerja ASEAN ke depan.” — ujar Arrmanatha Nasir
Pernyataan tersebut menegaskan ambisi Indonesia untuk terlibat lebih aktif dalam agenda pembaruan kelembagaan menjelang tonggak 60 tahun ASEAN. Tantangan berikutnya ialah mengubah gagasan efektivitas menjadi keputusan konsisten, pendanaan memadai, dan program lintas negara yang terukur. Menjelang 2027, capaian nyata akan menjadi ujian bagi komitmen ASEAN menjaga perdamaian, meningkatkan kepercayaan, dan menghadirkan manfaat bagi rakyat.