Serangan Rusia di Zaporizhzhia Tewaskan 42 Orang

Jumlah korban tewas akibat serangan Rusia terhadap pusat distribusi bantuan di Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, kini mencapai 42 orang. Angka tersebut meningkat setelah tim penyelamat menelusuri puing bangunan sekolah yang menjadi lokasi penyaluran bantuan kemanusiaan sejak awal pekan. Dinas Layanan Darurat Negara Ukraina melanjutkan pencarian selama empat hari berturut-turut, menghadapi struktur reruntuhan yang berpotensi membahayakan personel. Perkembangan itu memperpanjang duka warga setempat, sementara kepastian nasib puluhan orang lainnya masih menunggu hasil operasi penyisiran.

Serangan tersebut terjadi pada Senin, ketika bangunan sekolah difungsikan sebagai titik distribusi bantuan sekaligus tempat berlindung warga. Presiden Volodymyr Zelensky menyebut pasukan Rusia menggunakan bom udara untuk menghantam lokasi yang menampung warga pencari bantuan. Serangan susulan kemudian memperbesar kehancuran, memperumit evakuasi, serta menyisakan proses identifikasi korban yang belum seluruhnya rampung.

Serangan Rusia Memperpanjang Operasi Pencarian

Petugas penyelamat menyisir setiap bagian reruntuhan di Komyshuvakha dengan koordinasi ketat, lantaran kondisi bangunan menyulitkan akses menuju titik tertentu. Dinas Layanan Darurat Negara Ukraina menggambarkan proses tersebut sebagai operasi berisiko tinggi yang menuntut ketelitian pada setiap pergerakan.

“Setiap langkah memerlukan kehati-hatian ekstra dan tindakan yang sangat terkoordinasi,” — tulis Dinas Layanan Darurat Negara Ukraina.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika tim memasuki hari keempat pencarian, tanpa kepastian seluruh korban telah berhasil ditemukan dari bawah puing.

Pencarian Berlangsung dalam Kondisi Sulit

Pelaksana tugas kepala Administrasi Militer Regional Zaporizhzhia, Mykhailo Semikin, turut mengonfirmasi jumlah korban meninggal mencapai 42 orang. Ia menyatakan operasi pencarian tetap berjalan di tengah kondisi lapangan yang sangat sulit, sehingga penyisiran belum dapat dihentikan. Petugas menghadapi tantangan berupa material bangunan yang runtuh, ruang gerak terbatas, serta potensi keberadaan korban di bawah puing.

Zelensky Soroti Serangan Susulan di Lokasi Perlindungan

Zelensky mengatakan serangan pertama menghantam sekolah yang digunakan untuk membagikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat sekitar. Namun, menurut pernyataannya melalui platform X, pasukan Rusia kembali menyerang setelah bom udara pertama menghantam kawasan tersebut. Melalui X, Zelensky menyebut, “terjadi serangan susulan dengan sembilan bom lagi” yang menargetkan tempat perlindungan warga. Presiden Ukraina itu menilai rangkaian serangan tersebut menunjukkan Moskow tidak berupaya meredakan ketegangan selama perang memasuki tahun keempat.

Serangan Rusia Sisakan Puluhan Orang Belum Ditemukan

Kepolisian daerah pada Rabu mencatat 59 orang masih berstatus hilang setelah serangan menghancurkan lokasi distribusi bantuan tersebut. Namun, aparat memperkirakan sebagian nama dalam daftar itu mungkin merujuk kepada korban yang jasadnya telah ditemukan penyelamat. Polisi juga menyebut 33 orang kemungkinan masih tertimbun reruntuhan, sehingga pencarian membutuhkan ketelitian dan dukungan peralatan penyelamatan.

Identifikasi korban turut menghadapi kendala karena sejumlah jenazah tidak lagi dapat dikenali melalui pemeriksaan visual oleh petugas. Untuk mengatasi hambatan tersebut, spesialis mengumpulkan sampel biologis sebagai bahan pembanding dalam proses identifikasi berbasis pemeriksaan DNA. Langkah forensik itu diperlukan agar keluarga memperoleh kepastian identitas, sementara daftar korban dapat diperbarui secara lebih akurat.

Penyelidikan dan Identifikasi Masih Berjalan

Otoritas Ukraina belum menyelesaikan seluruh proses pencarian, lantaran petugas masih memeriksa area bangunan yang tertimbun material berat. Di tengah operasi itu, kepolisian terus mencocokkan data orang hilang dengan jenazah yang berhasil dievakuasi dari lokasi. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan serangan tersebut menargetkan unit militer Ukraina di sekitar Komyshuvakha. Moskow dan Kyiv sama-sama membantah sengaja menjadikan warga sipil sebagai sasaran, meski kedua pihak tetap menyampaikan versi berbeda.

Tragedi di Zaporizhzhia kembali menyoroti besarnya risiko yang dihadapi warga sipil ketika fasilitas bantuan berada di tengah perang. Operasi penyelamatan kini berfokus pada pencarian korban tersisa, pengenalan jenazah, serta penyampaian informasi kepada keluarga yang menunggu kepastian. Hingga seluruh proses rampung, angka korban dan orang hilang masih dapat berubah mengikuti hasil penyisiran serta pemeriksaan forensik.

Leave a Comment