Protes Biaya Hidup Meluas ke Italia dan Portugal

Gelombang protes biaya hidup yang mengguncang Spanyol dan Prancis kini merambah Italia serta Portugal pada akhir pekan. Di Milan, aksi damai berubah menjadi bentrokan setelah demonstran bertopeng melemparkan benda ke arah polisi dan membakar barikade. Sementara itu, demonstran di Lisbon mendirikan kamp tenda untuk mendesak pemerintah menanggapi krisis perumahan dan tekanan pengeluaran. Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana keresahan ekonomi berubah menjadi tekanan politik ketika hunian dan kebutuhan sehari-hari kian mahal.

Polisi di Milan memakai meriam air dan gas air mata guna membubarkan massa usai pelemparan benda. LaPresse melaporkan 2 polisi terluka dan sekitar 50 demonstran ditahan, banyak di antaranya masih di bawah umur. Perdana Menteri Giorgia Meloni menegaskan kebebasan berdemonstrasi tetap berlaku, tetapi mengecam pembakaran kota dan serangan terhadap aparat.

Biaya Hidup Mendorong Ketegangan di Milan

Protes biaya hidup di Milan semula menarik peserta yang menyuarakan keresahan, tetapi situasi memburuk saat pelaku bertopeng melancarkan kekerasan. Mereka melempar batu, bongkahan paving, dan benda lain ke arah barisan polisi antihuru-hara di pusat kota. Meja-meja bar menjadi barikade yang dibakar, sementara rekaman pascakerusuhan menunjukkan mobil Carabinieri rusak parah akibat bentrokan. Wali Kota Giuseppe Sala mengakui alasan demonstrasi dapat dipahami, tetapi menolak kekerasan terhadap aparat dan perusakan fasilitas kota.

Polisi Menangani Bentrokan, Pemerintah Dikritik

Penahanan sekitar 50 demonstran menandai respons penegak hukum terhadap kekacauan yang mengakhiri aksi di pusat Milan. Laporan awal tidak menunjukkan seluruh demonstran terlibat kekerasan, sehingga pembedaan peserta damai dan pelaku rusuh tetap penting. Pernyataan Meloni dan Sala sama-sama membedakan hak menyampaikan aspirasi dari tindakan yang menimbulkan korban serta kerusakan.

Kamp Tenda Menyoroti Krisis Perumahan Portugal

Di Lisbon, ratusan orang berkumpul di Lapangan Rossio setelah demonstrasi yang lebih luas digelar di berbagai wilayah Portugal. Mereka berjanji bertahan semalaman, duduk mengelilingi patung Raja Pedro IV sambil menyanyikan lagu untuk menarik perhatian publik. Pekerja sosial Elena Costa menilai beban hidup menekan pembayar pajak dan pekerja, terutama ketika hak atas hunian sulit terpenuhi. Insinyur Antonio Margado mengkritik kebijakan sewa pemerintah, dengan alasan pemilik rumah lebih terlindungi daripada penyewa.

“Jadi, kami semua berkumpul di sini untuk mencoba menjelaskan bahwa kami sedang tercekik,” ujar Elena Costa.

Biaya Hidup dan Harga Rumah Memicu Tekanan

Data resmi menunjukkan harga rumah Portugal melonjak 124% selama 2015–2024, sekitar dua kali kenaikan rata-rata Uni Eropa. Lonjakan tersebut membebani kaum muda, penyewa, dan warga Lisbon, sementara seperempat penduduk Portugal tinggal di wilayah metropolitan ibu kota. Protes biaya hidup turut memperluas kamp perumahan yang lebih dahulu muncul di Porto, tempat puluhan tenda telah berdiri.

Tuntutan Meluas dari Hunian hingga Layanan Publik

Aksi yang didukung konfederasi serikat pekerja CGTP sebelumnya menuntut perbaikan layanan publik, pensiun, upah, serta pengendalian biaya perumahan. Dengan tuntutan itu, demonstran menempatkan perumahan sebagai bagian dari persoalan kesejahteraan, bukan sekadar dinamika pasar properti. Ketimpangan perlindungan antara pemilik dan penyewa pun menjadi sorotan saat harga hunian terus melampaui kemampuan banyak rumah tangga.

Pemerintah Portugal Berupaya Meredam Kemarahan

Perdana Menteri Luís Montenegro mengatakan pemerintah memahami kemarahan masyarakat terhadap hal-hal yang mereka nilai sebagai kekurangan kebijakan publik. Namun, ia memperingatkan pesaing politik agar tidak membawa suasana ketidakstabilan dari negara lain ke Portugal tanpa dukungan masyarakat. Pernyataan itu muncul ketika gelombang demonstrasi di Prancis telah berujung bentrokan, penangkapan besar-besaran, serta kerusakan properti. Meluasnya aksi di sejumlah negara menunjukkan tekanan atas biaya hidup dan perumahan berkembang melampaui batas satu pemerintahan nasional.

Meskipun latar setiap demonstrasi berbeda, warga menuntut jawaban konkret atas biaya hunian, upah, serta mutu layanan publik. Bentrokan Milan mempertegas risiko ketika aksi protes disusupi kekerasan, sedangkan kamp Lisbon menyalurkan kemarahan lewat tekanan simbolis berkepanjangan. Respons pemerintah berikutnya akan menentukan apakah tuntutan warga memperoleh jalur kebijakan atau terus berkembang menjadi mobilisasi jalanan.

Leave a Comment