Kelompok Houthi meluncurkan empat rudal balistik ke Marib, kota yang berada di bawah kendali pemerintah Yaman, pada Senin malam. Serangan pada 19 Oktober 2026 itu menyasar kawasan padat penduduk yang menampung banyak warga mengungsi akibat konflik berkepanjangan. Otoritas setempat belum merilis informasi mengenai korban jiwa ataupun kerusakan, sehingga dampak serangan terbaru masih belum terukur. Rangkaian peluncuran rudal Houthi ini menambah tekanan keamanan terhadap Marib, wilayah strategis bagi pemerintah dan pengungsi.
Anadolu melaporkan bahwa serangan Marib berlangsung bersamaan dengan operasi militer terpisah di wilayah selatan negara itu.
“Di saat yang sama, pihak tentara melaporkan telah memukul mundur serangan Houthi lainnya di wilayah selatan negara tersebut.” — keterangan, otoritas lokal dan pejabat militer Yaman.
Laporan terpisah itu belum merinci kerugian, sementara sumber yang sama menyebut bentrokan di Lahj terjadi pada hari yang sama.
Serangan Rudal Houthi Berulang Mengancam Marib
Serangan terbaru datang sehari setelah pemerintah daerah melaporkan delapan rudal balistik menyasar Marib tanpa rincian korban. Pada 15 Oktober, serangan sebelumnya dilaporkan melibatkan sembilan rudal balistik dan tujuh proyektil menuju kawasan permukiman. Rangkaian serangan berturut-turut meningkatkan kekhawatiran penduduk, terutama karena proyektil disebut mengarah ke lingkungan warga sipil. Marib bukan sekadar kota garis depan, melainkan basis penting pemerintah dengan infrastruktur produksi minyak dan gas.
Marib Menampung Jutaan Pengungsi
Data pemerintah menyebut lebih dari 2,2 juta pengungsi kini tinggal di Marib, menjadikannya salah satu pusat kemanusiaan penting. Kepadatan penduduk dan keterbatasan ruang aman membuat ancaman serangan terhadap kawasan berpenghuni menjadi perhatian serius. Tanpa angka korban maupun laporan kerusakan, dampak kemanusiaan serangan terbaru masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Pasukan Yaman Mengklaim Memukul Mundur Serangan di Lahj
Di front Kahbub, bagian barat kegubernuran Lahj, tentara Yaman menyatakan berhasil menahan gempuran Houthi pada Senin. Brigade Raksasa Selatan, kelompok yang berafiliasi dengan tentara pemerintah, melaporkan pertempuran berlangsung berjam-jam dengan berbagai jenis senjata. Dalam keterangannya, brigade itu menyebut gelombang serangan petempur Houthi memicu kontak senjata berulang di kawasan tersebut. Pasukan pemerintah, dengan dukungan koalisi pimpinan Arab Saudi, mengklaim memaksa penyerang mundur dan merusak perlengkapan militer mereka.
Rudal Houthi Mempertegas Eskalasi Konflik
Pejabat brigade tidak menyebutkan jumlah korban tewas ataupun petempur yang terluka dalam bentrokan tersebut secara terperinci. Meski begitu, laporan mengenai serangan berulang di Marib dan bentrokan Lahj memperlihatkan tekanan keamanan berlangsung di beberapa front. Perkembangan itu membuat klaim kedua pihak perlu dipisahkan dari fakta yang telah dikonfirmasi secara independen.
Konflik Yaman Berakar Sejak Perebutan Sanaa
Konflik Yaman memanas sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah kegubernuran pada 2014. Setahun kemudian, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk menopang pemerintahan yang diakui secara internasional. Pertempuran kembali meningkat pada Juli 2026 setelah upaya gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2022 gagal bertahan.
Serangan Berulang Memperbesar Risiko bagi Warga Sipil
Marib memiliki arti strategis karena menjadi basis utama pemerintah sekaligus pusat produksi minyak dan gas di Yaman. Kehadiran lebih dari 2,2 juta pengungsi membuat setiap serangan di kota tersebut berpotensi menambah kerentanan warga. Namun, tanpa laporan resmi tentang korban dan kerusakan, besarnya dampak serangan terbaru belum dapat dipastikan. Pemantauan kondisi warga, akses bantuan, dan keamanan kawasan padat penduduk akan menjadi kebutuhan mendesak di tengah eskalasi.
Serangan empat rudal di Marib dan bentrokan di Lahj menunjukkan konflik belum mereda, meskipun rincian kerugian masih terbatas. Situasi di lapangan dapat berubah cepat, sehingga laporan korban dan kerusakan perlu menunggu konfirmasi otoritas terkait. Di tengah ketegangan yang kembali meningkat, keselamatan penduduk dan perlindungan kawasan sipil tetap menjadi perhatian utama.