Polisi Israel tidak menemukan bukti yang mendukung tuduhan kecurangan pemilu yang diajukan Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu. Temuan itu berseberangan dengan klaim partai tersebut, yang menuding komunitas Arab melakukan pelanggaran untuk memengaruhi hasil pemungutan suara. Laporan surat kabar Israel Hayom pada Rabu, 28 Oktober 2026, menyebut komite pemilihan belum melihat alasan mengkhawatirkan integritas pemungutan suara. Penilaian awal itu tidak otomatis menutup pemeriksaan, tetapi menegaskan bahwa tuduhan politik belum didukung bukti penyelidikan yang dapat diverifikasi.
Mengutip sumber anonim, Israel Hayom melaporkan penilaian komite bertentangan dengan tuduhan Likud terkait tempat pemungutan suara di komunitas Arab. Polisi, menurut laporan tersebut, juga menyatakan tidak mempunyai dasar penyelidikan maupun intelijen yang menguatkan tuduhan kecurangan itu. Sementara itu, komite menyebut pengaduan dari berbagai partai tetap diproses melalui mekanisme pemeriksaan rutin terkait integritas pemilihan.
Kecurangan Pemilu Jadi Tuduhan Utama Likud
Pada Rabu, Likud menuduh partai-partai Arab “mencuri” pemilu melalui suap, intimidasi, kekerasan, pemalsuan, serta perangkat lunak terlarang untuk mengerahkan pemilih. Partai itu juga melontarkan tuduhan bahwa kelompok-kelompok Arab mendukung terorisme dan berupaya menghancurkan negara Yahudi. Klaim tersebut merupakan pernyataan Likud, bukan kesimpulan penyelidikan kepolisian atau temuan yang telah dipastikan oleh otoritas pemilu. Karena itu, tuduhan mengenai suap, ancaman, dan pemalsuan masih harus dinilai melalui bukti, kesaksian, serta prosedur hukum yang berlaku.
Likud Mendesak Penyelidikan Menyeluruh
Likud menyatakan akan menyerahkan ratusan kesaksian dan bukti kepada polisi, badan keamanan dalam negeri Shin Bet, serta komite pemilihan. Partai tersebut mendesak penyelidikan segera, dengan dugaan pelanggaran sebagai dasar untuk meminta penanganan resmi terhadap laporan mereka. Namun, kepolisian belum mengonfirmasi temuan yang mendukung tuduhan tersebut, sedangkan komite tetap menelaah pengaduan dalam proses pengawasan reguler.
Komite Pemilihan Menelaah Setiap Pengaduan
Komite pemilihan mengonfirmasi menerima aduan Likud dan memasukkannya ke dalam peninjauan rutin atas dugaan pelanggaran integritas pemilu. Mekanisme itu juga mencakup laporan partai-partai lain, sehingga setiap klaim dapat diperiksa tanpa menganggap dugaan sebagai fakta yang terbukti. Sehari sebelumnya, komite menyatakan belum menemukan indikasi manipulasi surat suara secara sistematis di berbagai lokasi pemungutan. Komite menambahkan bahwa laporan individual ditangani segera, sementara proses penghitungan dan verifikasi tetap berlangsung sesuai prosedur.
Kecurangan Pemilu Beririsan dengan Perebutan Kursi
Dalam laporan awal, Ra’am dan Joint List, dua partai yang didominasi pemilih Arab, diproyeksikan meraih total 19 kursi. Proyeksi itu menjadi capaian gabungan tertinggi menurut laporan tersebut, sekaligus memperbesar pengaruh kelompok Arab dalam peta politik parlemen. Namun, pembaruan penghitungan pada 29 Oktober kemudian menempatkan estimasi gabungan partai-partai Arab pada 18 kursi di Knesset.
Peta Kursi Belum Menentukan Mayoritas
Pada pembaruan 29 Oktober, penghitungan telah mencapai 95,4 persen suara sah, dengan blok Netanyahu diproyeksikan memperoleh 54 kursi. Blok oposisi pimpinan Gadi Eisenkot diproyeksikan meraih 48 kursi, sedangkan ambang mayoritas parlemen tetap 61 kursi. Kedua blok masih kekurangan dukungan untuk memerintah sendiri, sementara sebagian besar suara telah dihitung tetapi belum seluruhnya disahkan.
Penghitungan Suara Masih Berlanjut
Angka tersebut belum final karena ratusan ribu surat suara dalam amplop ganda masih menunggu penghitungan dan pemeriksaan. Surat suara itu mencakup pilihan personel militer dan diplomat, yang diproses melalui tahapan tersendiri sebelum hasilnya dikukuhkan oleh otoritas. Karena itu, pembagian kursi dapat berubah ketika seluruh suara yang memenuhi ketentuan selesai dihitung dan hasil resmi diumumkan. Ketidakpastian komposisi parlemen kini menempatkan proses verifikasi sebagai penentu penting, baik bagi legitimasi pemilu maupun perundingan pembentukan pemerintahan.
Hingga hasil resmi ditetapkan, klaim para pihak perlu dibedakan jelas dari fakta yang disahkan lembaga berwenang. Situasi ini memperlihatkan betapa ketatnya persaingan politik Israel, ketika hasil sementara belum memberi jalan mudah menuju mayoritas. Perhatian kini tertuju pada penghitungan tambahan dan tindak lanjut pengaduan, yang akan menentukan arah penyelesaian sengketa pascapemilu.