Militer Amerika Serikat menyiapkan opsi serangan baru terhadap Iran, termasuk kemungkinan penggunaan bom MOAB, senjata non-nuklir terbesarnya. Rencana itu menyasar infrastruktur energi dan fasilitas nuklir jika Presiden Donald Trump memerintahkan operasi tempur terhadap Teheran kembali. Laporan CNN pada 14 Oktober 2026 menyebut sejumlah pejabat membahas opsi tersebut, tetapi belum ada keputusan untuk melancarkan serangan. Jika dikerahkan, bom MOAB dapat menandai eskalasi konflik, meskipun efektivitasnya terhadap sasaran bawah tanah masih dipertanyakan.
Menurut laporan itu, opsi serangan bisa dijalankan sebelum atau setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat, bergantung keputusan presiden. Salah satu sumber menyebut serangan tambahan mungkin dilakukan sebelum militer menarik pasukan dari wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM). Rencana untuk menghantam fasilitas nuklir juga mencakup Pickaxe Mountain, lokasi bawah tanah yang dicurigai menyimpan komponen program nuklir Iran.
Bom MOAB Masuk dalam Opsi Serangan
Trump disebut meminta militer menyusun paket serangan tambahan yang menargetkan infrastruktur energi strategis Iran. Menurut sumber yang mengetahui perencanaan itu, opsi serangan turut memasukkan kemungkinan penggunaan GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast. Bom berpemandu GPS ini dikenal sebagai senjata non-nuklir terbesar dalam persenjataan Amerika Serikat, dengan daya rusak area luas. Namun, rencana tersebut masih berupa opsi perencanaan, bukan keputusan final atau pengumuman mengenai jadwal serangan.
Pickaxe Mountain Menjadi Salah Satu Sasaran
Pickaxe Mountain termasuk sasaran yang disebut, karena Washington dan Israel menduga Iran menyimpan komponen program nuklir di lokasi tersebut. Trump berulang kali mengancam lokasi itu dan menegaskan pencegahan senjata nuklir Iran sebagai tujuan utama kampanye militernya. Meski begitu, status serta isi fasilitas bawah tanah tersebut menjadi bagian dari dugaan yang mendasari perencanaan serangan.
Efektivitas Bom MOAB Masih Diragukan
MOAB mampu menghancurkan area permukaan luas, dengan jangkauan kerusakan digambarkan setara sekitar 9 blok kota. Namun, bom itu tidak dirancang untuk menembus jauh ke bawah permukaan atau menghancurkan fasilitas yang tertanam sangat dalam. Sejumlah sumber yang dikutip CNN meragukan kemampuannya merusak lokasi yang terlindungi lapisan granit tebal dan struktur pertahanan lainnya. Keraguan itu penting karena sasaran bawah tanah termasuk fasilitas yang mungkin ingin dihantam dalam paket serangan tambahan Washington.
Bom MOAB dan Batas Efektivitasnya
Seorang sumber yang memahami pembahasan militer menilai MOAB lebih cocok menghancurkan area luas daripada menembus fasilitas terkubur. Penilaian itu menyoroti perbedaan antara daya ledak di permukaan dan kebutuhan menghancurkan kompleks nuklir yang berada jauh di bawah tanah. Maka, potensi penggunaan senjata ini mengandung pertanyaan teknis mengenai kecocokan amunisi dengan karakter perlindungan sasaran.
“MOAB adalah senjata untuk operasi penghancuran area luas yang lebih banyak memberikan efek demonstratif, tetapi tidak banyak berguna untuk hal lain.” — ungkap, sumber perencanaan militer
Efek Psikologis Masuk Pertimbangan
Pejabat AS juga disebut mempertimbangkan dampak psikologis pengerahan bom itu sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran. Salah satu sumber memperkirakan pemerintah dapat menghadapi desakan untuk mengambil tindakan lanjutan terhadap Iran meski hasilnya belum jelas. Belum pasti apakah penggunaan MOAB akan membuat Teheran menerima tuntutan Washington atau mengubah perhitungan strategisnya.
Risiko Eskalasi dan Korban Sipil
Ledakan MOAB dapat menimbulkan kehancuran besar di sekitar titik jatuh, sehingga pemilihan sasaran menjadi pertimbangan utama. Risiko korban sipil menguat apabila serangan menyasar infrastruktur energi yang berdekatan dengan permukiman atau fasilitas yang dipakai masyarakat. Penggunaan senjata tersebut juga bisa menaikkan eskalasi karena memperluas pilihan serangan terhadap fasilitas strategis milik Iran. Namun, laporan yang tersedia belum menunjukkan keputusan akhir untuk mengerahkan bom itu dalam operasi tempur.
Persiapan tersebut menunjukkan Washington masih menyusun berbagai skenario militer, tetapi keberadaan opsi tidak berarti keputusan menyerang sudah diambil. Efektivitas terhadap fasilitas terlindungi, dampak kemanusiaan, dan manfaat strategis tetap menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Perkembangan berikutnya bergantung pada arahan Trump serta penilaian militer tentang risiko dan hasil yang mungkin dicapai.